Berusia 103 Tahun, Kakek Ini Masih Kuat Bekerja, Sebut Hidupnya Tak Neko Neko Bikin Umur Panjang

Tampang dan perawakannya seperti lansia pada umumnya. Yang istimewa dari kakek ini, yakni usianya 103 tahun. Di usia tersebut Karso, demikian namanya, masih kuat bekerja. Kakek yang tercatat sebagai warga RT 3/4, Dusun Bojong, Desa Putrapinggan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ini bahkan sanggup memikul beban seberat 60 kilogram.

Karso bukan orang asli Pangandaran. Ia asal Banyumas, Jawa tengah. Namun, Karso sudah puluhan tahun menetap di Pangandaran bersama istri tercinta. Pernikahan mereka dikaruniai 3 anak. Sehari hari, untuk mencukupi kebutuhannya, Karso bekerja di kebun karet milik orang lain.

Bacaan Lainnya

Ketika bekerjamenyadappohonkaret, ia dibantu oleh istrinya yang selalu setia menemaninya. Pendapatannya tidak tentu. Jika dihitung harian, ia kadang mendapat upah Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu. Namun, meskipun upahnya terhitung kecil, uang hasil keringatnya sangat berharga bagi ia dan istrinya.

Karso, mengaku jarang sakit apalagi harus sampai pergi ke puskesmas atau rumah sakit. MenurutKarso, supaya tetap selalu sehat, kuat dan berumur panjang itu tentu ada kuncinya. InitipspanjangumurmenurutKarso.

"Gampang, kuncinya itu adalah benar dan jujur. Orang lain mau seperti apa, Saya mah tidak. Pada intinya, kita hidup tidak boleh yang neko neko, lah," ucapKarso. Karso menambahkan, ia hanya ingin mencari uang untuk mencukupi kebutuhan untuk makan sehari hari. Ia ingin membantu istri dan saat ingin apa pun kebutuhan pokok tidak usah meminta ke anak.

"Yang penting saya mah bisa makan. Jangan sampai, kekurangan," katanya. Karso menambahkan, ia tinggalPangandaransejak tahun 1974 dan dahulumenyadappohonkaret. "Tapi, karena sekarang penglihatan buram tidak jelas saya tidak melakukan hal itu lagi. Sekarang, yangmenyadappohonkaretitu istri dan saya memikul hasil sadapannya," kata ia.

"Kadanggetahkaretyang saya pikul 50 kilogram dan kadang 60 kilogram. Ya, lumayan, sebulan saya sama istri bisa dapat uang sebesar Rp 1,4 juta. Kalau dihitung per hari paling antara Rp 30 sampai Rp 40 ribu per orang," ucapnya. Untuk jarak tempuh, dari kebun pohon karet ke tempat penampungan itu tidak jauh, paling hanya 5 kilometer. "Jarak 5 kilometer ini, setiap harinya saya lewati karena kan harus berangkat dan pulang dengan memikul hasil sadapan. Alhamdulillah masih sehat, dan kalau disuruh milih mending, saya hidup di sini daripada di kota," ucap Karso.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.